RSS

Arsip Tag: Hafalan

Musafir dan Penghapal Quran

Pemisalan orang yang senantiasa menghapalkan al-Quran seperti musafir yang terburu-buru (harus segera tiba di tujuan), yakni seperti dua orang musafir. Satu diantaranya membekali diri dengan kurma, sehingga jika datang rasa lapar di perjalanan, tangannya bisa merogoh kurma tadi untuk makan. Dengan cara seperti ini maka dia akan mampu menyelesaikan safarnya dalam 5 hari misalnya.

Kitab Suci Kaum Muslimin

Kitab Suci Kaum Muslimin

Adapun pemisalan orang yang tidak menghapalkan al-Quran, adalah seperti orang yang satunya lagi dari dua musafir tadi. Namun dia mempersiapkan bekalnya dengan membawa tepung atau beras. Tatkala lapar maka dia perlu waktu untuk mempersiapkan makanannya, baik mengadon-nya, mematangkannya atau mengumpulkan kayu bakar, demikianlah harus selalu tersendat perjalanannya sekitar sejam-dua jam tatkala hendak mengisi perut.

Demikianlah orang-orang yang rajin menghapal al-Quran maka dia terkadang bisa membaca al-Quran sepanjang hari. Allah mudahkan untuk itu, karena dia bisa membaca dalam keadaan dia dalam kendaraan, dia membaca ketika dalam kondisi berjalan, membaca ketika sholat maupun di luar sholat.

Adapun yang tidak banyak memiliki hapalan, maka tatkala dia akan membaca al-Quran, dia harus meluangkan waktu untuk berwudhu atau bersuci kemudia memerlukan mushaf. Dia senantiasa harus membacanya dalam keadaan duduk, tanpa bisa membaca sambil berjalan. Ya, duduk terus selama dia meneruskan bacaannya, sehingga lewatlah sebagian waktunya.

Oleh karena itu kami mendorong agar para penuntut ilmu dalam menghapal al-Quran dan memacu agar memperbanyak hapalan. Karena yang demikian tersebut di antara sebab sebab banyaknya penghapal al-Quran yang memberi manfaat kepada ummat dan dirinya sendiri.

Dinukil secara bebas dari Liqo’at Syaikh Abdullah bin Jibrin hafidzahullah

***********

Saya sendiri mengutip dari Blog Forum Komunikasi Islam ITB

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 3, 2008 in Uncategorized

 

Tag: , ,