RSS

Kebencanaan Gunungapi

15 Feb

Gunungapi Semeru

Gunungapi bukan hanya terlihat indah dan menakjubkan, namun juga sangat berbahaya. Banyak gunungapi yang dapat menimbulkan bencana yang sangat mengancam dan mematikan, baik pada saat erupsi maupun saat diamnya. Memahami apa yang dapat ditimbulkan oleh gunungapi adalah langkah awal dalam penanggulangan bencana gunungapi. Namun penting untuk diingat bahwa meskipun para ilmuwan telah mempelajari gunungapi sekian lama, mereka belumlah mengetahui secara detail segalanya tentang gunungapi. Gunungapi adalah sistem alamiah, dan selalu memiliki beberapa elemen yang tak terduga.

Ahli kegunungapian selalu bekerja untuk memahami bagaimana terjadinya bencana gunungapi, dan apa yang bisa dilakukan untuk menghindarinya. Disini ada beberapa bahaya yang umum terjadi dan bagaimana mekanisme terjadinya. (Harap diperhatikan bahwa uraian ini ditujukan hanya untuk sumber informasi dasar, dan tidak boleh dipahami sebagai petunjuk keselamatan bagi siapa saja yang tinggal di sekitar gunungapi. Selalu perhatikan setiap peringatan dan informasi yang dikeluarkan oleh ahli vulkanologi dan otoritas setempat).

Aliran Lava

Aliran lava

Lava adalah cairan pekat pijar yang mengalir keluar dari gunungapi. Berdasarkan kompisisi dan temperaturnya, lava bisa sangat cair atau sangat kental. Aliran lava cair lebih panas dan bergerak lebih cepat, dan dapat membentuk alur sungai, atau menyebar pada bentangalam landai. Aliran lava kental lebih dingin (dibandingkan lava cair) dan mengalir dalam jarak yang lebih pendek, terkadang dapat menbentuk kubah atau sumbat lava, runtuhan dari kubah lava dapat membentuk arus pekat piroklastik (akan dibahas kemudian).

Umumnya aliran lava dapat dengan mudah dihindari bahkan dengan berjalan kaki, karena tidak lebih cepat daripada kecepatan pejalan kaki, namun aliran lava biasanya tidak dapat dihentikan atau dibelokkan. Karena aliran lava sangat panas – antara 1,000-2,000°C (1,800 – 3,600° F) – dan dapat mengakibatkan kebakaran lahan dan vegetasi. Lava yang keluar dari kawah gunungapi juga menghasilkan tekanan yang sangat besar yang dapat merusak dan mengubur apapun yang dilaluinya.

Arus Pekat Piroklastik

Arus pekat piroklastik adalah fenomena letusan eksplosif. Merupakan campuran dari  hancuran batuan, abu dan gas panas, dengan kecepatan hingga ratusan mil per jam. Aliran ini dapat bersifat cair, misalnya seruakan piroklastik, atau konsentrat, misalkan pada aliran piroklastik. Dikendalikan oleh gravitasi, dalam artian mengalir pada kelerengan.

Aliran Piroklastik

Seruakan piroklastik lebih encer, alirannya bersifat turbulen yang terbentuk ketika magma secara cepat berinteraksi dengan air. Seruakan piroklastik dapat melintasi rintangan seperti dinding lembah dan meninggalkan endapan tipis berupa abu dan batuan yang menutupi bentangalam. Aliran piroklastik terbentuk dari longsoran material, umumnya dari runtuhan kubah lava, yang membentuk endapan masif yang berukuran dari abu hingga bongkah. Aliran piroklastik ini umumnya mengalir mengikuti lembah dan bentangalam rendahan lainnya, dan endapannya akan mengisi bentangalam ini. Terkadang, bagian atas dari aliran piroklastik ini berupa awan abu yang akan terpisah dari aliran dan membentuk seruakan tersendiri.

Arus pekat piroklastik ini sangat mematikan. Dapat melintasi jarak yang dekat ataupun ratusan mil jauhnya dari sumbernya. Kecepatan aliran ini hingga mencapai 1,000 km/jam (650 mil/jam). Selain itu juga aliran ini sangat panas – temperaturnya hingga mencapai 400oC (750oF). Kecepatan dan tenaga dari aliran piroklastik, ditambah dengan temperaturnya yang tinggi, menunjukkan bahwa fenomena vulkanik ini umumnya akan menghancurkan apa saja yang dilaluinya, dengan cara membakar atau melindas, atau keduanya. Apa saja yang terkena aliran piroklastik ini akan terbakar dan terlindas oleh endapannya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan diri apabila terkena aliran piroklastik ini, kecuali dengan tidak berada di sana ketika hal ini terjadi.

Gunungapi Soufriere Hills di Montserrat

Salah satu contoh kerusakan yang disebabkan oleh arus pekat piroklastik ini adalah Kota mati Plymouth di Kepulauan Carribean, Montserrat. Ketika Gunungapi Soufriere Hills mulai meletus secara dahsyat pada tahun 1996, arus pekat piroklastik dari letusan awan-abu dan runtuhan kubah lava mengalir melintasi lembah yang banyak pemukiman penduduk, dan mengubur Kota Plymouth. Bagian pulau tersebut kemudian dinyatakan sebagai daerah terlarang dan dievakuasi, meskipun masih memungkinkan bagi kita untuk melihat sisa-sisa bangunan yang hancur dan terkubur, dan juga barang-barang yang telah meleleh oleh panasnya aliran piroklastik.

Jatuhan Piroklastik

Jatuhan piroklastik, juga dikenal dengan jatuhan vulkanik, terjadi ketika tefra – fragmen batuan dengan ukuran berkisar dari milimeter hingga puluhan sentimeter – dilepaskan dari kawah gunungapi selama periode letusan dan jatuh pada bentangalam yang cukup jauh dari pusat letusannya. Jatuhan piroklastik ini umumnya berasosiasi dengan tipe letusan Plinian, awan-abu atau gelembung vulkanik. Tefra dalam endapan jatuhan piroklastik dapat terendapkan pada jarak yang dekat dengan pusat erupsi (beberapa meter hingga kilometer), atau jika letusannya cukup kuat hingga ke bagian atas atmosfer, akan dapat melintasi benua. Endapan jatuhan piroklastik ini akan menyelimuti dan menutupi bentangalam tempat jatuhnya, dan ukuran butir serta ketebalannya akan berkurang sebanding dengan semakin jauhnya dari sumber erupsi.

Abu vulkanik

Jatuhan tefra umumnya tidak secara langsung berbahaya, kecuali pada seseorang yang berada terlalu dekat dengan erupsi dan dijatuhi fragmen batuan yang lebih besar. Namun tentunya akan ada efek jatuhannya. Abu jatuhannya dapat mematikan tanaman, merusak bagian motor dan mesin (terutama pada pesawat terbang), dan menggores permukaannya. Scoria dan bom kecil gunungapi dapat menghancurkan obyek yang halus, melengkungkan logam dan tertanam pada batang kayu. Beberapa jatuhan piroklastik mengandung bahan kimia beracun yang dapat terserap oleh tanaman dan sistem pengolahan air bersih, yang dapat berbahaya bagi manusia dan hewan ternak. Bahaya utama dari jatuhan piroklastik ini adalah beratnya, tefra dalam berbagai ukuran terbentuk dari fragmen batuan yang lumat, dan dapat sangat berat, terutama apabila dalam kondisi basah. Seringkali kerusakan disebabkan oleh jatuhan ini terjadi ketika abu yang basah dan skoria di atas atap bangunan membuat atap runtuh.

Material piroklastik yang diletuskan ke atmosfer dapat berdampak global, sebagaimana dampaknya secara lokal. Ketika jumlah material yang diletuskan cukup banyak, dan awan-abu yang terbentuk tersebar jauh oleh media angin, material piroklastik ini dapat menghalangi sinar matahari dan mengakibatkan pendinginan global. Merujuk pada letusan Gunung Tambora pada 1815, begitu banyak material piroklastik yang memasuki atmosfer yang menyebabkan penurunan temperatur bumi sekitar 0.5oC (lk 1.0oF). Hal ini mengakibatkan cuaca ekstrim di seluruh permukaan bumi, dan tahun 1816 dikenal sebagai ‘Tahun Tanpa Musim Panas’.

Lahar

Lahar adalah sejenis aliran lumpur yang terbentuk dari longsoran vulkanik. Terbentuknya dapat melalui beberapa cara: ketika terjadi longsoran material vulkanik pada lereng gunungapi, kemudian bercampur dengan air selama perjalanannya, dapat pula terbentuk dari pencairan salju dan es yang cepat selama letusan, dapat pula terbentuk dari hujan lebat pada endapan vulkanik yang belum terkompaksi, atau ketika gunungapi meletus melalui danau kawah, atau ketika danau kawah terpenuhi oleh luapan material letusan atau runtuhan dinding danau kawah.

Boulder yang terbawa oleh lahar

Lahar mengalir seperti cairan, namun karena mengandung material suspensi, umumnya lebih mirip dengan adukan semen basah. Mengalir melalui lembah dan daerah rendahan, namun dapat menyebar apabila mencapai area datar. Lahar dapat bergerak dengan keceaptan lebih dari 80 km/jam (50 mil/jam) dan mencapai jarak belasan mil dari sumbernya. Apabila lahar dihasilkan dari letusan vulkanik, temperaturnya masih dapat mencapai 60-70oC (140-160oF) pada ujung terjauh alirannya.

Lahar tidaklah secepat atau sepanas bahaya vulkanik lainnya, namun dapat sangat merusak. Lahar dapat melindas dan mengubur apapun yang dilaluinya, tebal endapannya terkadang hingga belasan kaki. Apapun yang tidak dapat menghindar dari aliran lahar akan segera tersapu atau terkubur. Lahar dapat dideteksi sebelum terjadinya dengan monitor acoustic, yang memberikan waktu bagi banyak orang untuk mengungsi ke tempat yan lebih tinggi. Terkadang aliran lahar dapat pula dibelokkan oleh adanya bangunan dan dinding penahan buatan, meskipun tidak mungkin untuk menghentikan alirannya secara penuh.

Gas vulkanik

Gas vulkanik mungkin hanyalah bagian kecil dari letusan gunungapi, namun mereka dapat menjadi salah satu efek yang sangat mematikan dari letusan. Sebagian besar gas yang dilepaskan saat letusan adalah uap air (H2O) dan relatif tidak berbahaya, namun gunungapi juga melepaskan karbon dioksida (CO­­­­­­2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H­­2S), gas fluorin (F2), hidrogen fluorida (HF) dan gas lainnya. Semua gas ini dapat berbahaya – bahkan mematikan – pada kondisi tertentu.

Karbon dioksida tidak beracun, namun dapat menggantikan oksigen pada udara normal, dan juga tidak berbau dan berwarna. Karena lebih berat daripada udara, umumnya akan terkumpul di daerah rendahan dan dapat menyesakkan pernapasan manusia dan hewan yang kebetulan berada di daerah rendah tersebut. Gas ini juga dapat larut di dalam air dan terkumpul di dasar danau. Pada situasi tertentu, air pada danau tersebut dapat tiba-tiba ‘meletuskan’ banyak gelembung karbon dioksida, membunuh tanaman, hewan ternak dan manusia yang tinggal di sekitarnya. Hal ini seperti kasus yang pernah terjadi di Danau Nyos di Kamerun, Afrika, pada tahun 1986, ketika erupsi CO2 dari danau menyesakkan pernapasan dan membunuh lebih dari 1,700 orang dan 3,500 hewan ternak di desa terdekat.

Endapan sulfur

Sulfur dioksida dan hidrogen sulfida sama-sama gas yang mengandung sulfur, dan tidak seperti karbon dioksida, memiliki keasaman yang jelas, berbau telur busuk. SO2 dapat berkombinasi dengan uap air di udara membentuk asam sulfat (H2SO4), asam yang sangat korosif. H2S juga sangat asam, dan sangat beracun meskipun pada kadar yang sedikit. Kedua gas asam ini dapat mengganggu jaringan lunak manusia (seperti mata, hidung, tenggorokan, paru-paru dan lainnya), dan bila gas asam ini dalam jumlah yang besar, mereka dapat bercampur dengan uap air untuk membentuk kabut, atau kabut vulkanik, yang dapat membahayakan pernapasan dan merusak paru-paru dan mata. Apabila udara yang mengandung sulfur ini dapat mencapai bagian atas atmosfer, mereka dapat menghalangi sinar matahari dan merusak lapisan ozon, yang kemudian berdampak pada iklim baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Kondisi Pemukiman di Sekitar Danau Nyos

Satu lagi yang paling buruk, meskipun hanya dalam jumlah sedikit gas yang dilepaskan oleh letusan gunungapi adalah gas fluorin (F2). Gas ini berwarna coklat kekuningan, korosif dan sangat beracun. Seperti CO2, gas ini lebih berat daripada udara normal dan cenderung terkumpul pada area rendahan. Gas asam sejenisnya, hidrogen fluorida (HF), bersifat sangat korosif dan beracun, dan dapat menyebabkan terbakarnya organ dalam tubuh, serta dapat menyerang kalsium pada sistem tulang manusia. Meskipun setelah gas yang tampak maupun gas asam dihilangkan, fluorin dapat diserap tumbuhan dan meracuni manusia dan hewan dalam waktu yang lama setelah periode letusan gunungapi. Setelah letusan Gunungapi Laki, tahun 1783, di Islandia, keracunan fluorin dan masalah kelaparan mengakibatkan kematian lebih dari setengah populasi hewan ternak dan hampir seperempat populasi penduduk di negara tersebut.

===========

Diterjemahkan secara bebas dari tulisan Jessica Ball dari geology.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2011 in Kebencanaan, Vulkanologi

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: