Sejarah Bumi Sejak Superkontinen Pangaea Hingga Saat Ini

Sekitar 250 juta tahun yang lalu, hanya ada superkontinen yang dinamakan Pangaea. Kemudian 50 juta tahun kemudian, sekitar 200 juta tahun yang lalu, Pangaea pecah menjadi dua superkontinen, Laurasia di sebelah utara dan Gondwana di sebelah selatan.

Kemudian 135 juta tahun yang lalu, Laurasia bergerak dan pecah menjadi tiga yaitu Benua Amerika Utara, Benua Eropa dan Benua Asia. Sedangkan Gondwana pecah menjadi Benua Afrika, Benua Antarktika, Benua Australia dan Benua Amerika Selatan.

Sekitar 65 juta tahun yang lalu (saat terjadi kepunahan massal Dinosaurus), susunan dan posisi benua secara perlahan berangsur-angsur mirip seperti yang ada saat ini. Ditambah dengan berpisahnya Anak Benua India dari Antarktika dan Benua Australia bergerak relatif ke arah ekuator. Anak Benua India tersebut kemudian menabrak Benua Asia dan karena dua-duanya tidak ada yang mau mengalah, maka dua-duanya saling berlomba menjulang ke atas membentuk Pegunungan Himalaya, pegunungan tertinggi di dunia.

Lho, koq gak ada yang mau ngalah ya ?

Yaa…karena dua-duanya merupakan kerak benua. Sifatnya sama-sama rigid, sama-sama berkomposisi felsik (Si-Al) dan tentunya densitasnya relatif sama. Jadi tidak ada yang mau nyungsep ke bawah seperti proses penunjaman di Palung Jawa. Lihat postingan sebelumnya di Animasi Mekanisme Penunjaman Kerak Samudra.

Animasinya bisa dilihat pada video di bawah ini.

Uraian sejarah terbentuknya benua di atas tidaklah menunjukkan bahwa Pangaea merupakan superkontinen tertua dalam sejarah bumi. Umur bumi sendiri sekitar 4.6 milyar tahun. Sedangkan batuan tertua berumur 3.5 milyar tahun. Tentunya ada sejarah superkontinen juga sebelum Pangaea. Hanya saja, merekonstruksi kejadian geologi pada masa yang sangat lampau, seperti Zaman Pra-Kambrium, sangatlah sulit. Data-data geologi lampau tersebut tentunya sudah tertutupi atau terganggu proses geologi yang datang kemudian. Sehingga periode sebelum Pangaea kebanyakan masih berupa hipotesa yang terbuka bagi banyak penafsiran.

Ada Superkontinen Laurussia, Laurentia dan Baltika yang berumur Kambrium. Lebih tua lagi ada Superkontinen Pannotia dan Rodinia yang berumur Pra-Kambrium. Namun untuk merekonstruksi detail semua superkontinen tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah.

Tentunya rekonstruksi detail minimal meliputi bentuk, batas-batas pinggirnya, posisi, arah pergerakannya dan umurnya. Hal seperti ini yang sulit. Dan tentunya akan banyak perdebatan mengenai detail tersebut. Rekonstruksi yang dimulai dari Pangaea pada saat ini relatif sudah diterima luas oleh masyarakat ilmiah.

9 Tanggapan to this post.

  1. Posted by fendz on Januari 16, 2009 at 4:24 pm

    good,,good,,,good……..

  2. Posted by fendz on Januari 16, 2009 at 4:27 pm

    good,,good,,,

    jempol bwat yang bkin artikel ini….

  3. Posted by pendongs on Januari 16, 2009 at 4:46 pm

    ????? i don’t think so…………

  4. Owh jadi begitu yaw2..//?

    Banyak ilmu geologi yang terlewatkan olehku…

    Pasti tidur waktu gurunya ngajar…hayo ngaku! :D

  5. wuih…………………….. ba9uz buaaaaaaanget n kreeeen abbiiiieezzz.

  6. weesss…denGan vidieo ini pengetahuan jadi luas tentang proses terbentuknya benua karna pelajaran yang diajarkan guru blom menyeluruh…trimzzz yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa uups kepanjangan nich komentar gw kya pidato

  7. Posted by arif on Oktober 6, 2009 at 7:28 pm

    eh…………salam saya buat yang namanye pendongssssssssss
    maksudnya i don’t think so…..??????!!!!
    lo kamu bisa nge posting, posting ajaaaaaaaa nggak usah banyak komentarrrrrrrr!!!!!!!!!!

  8. Posted by lathifa on November 21, 2009 at 3:06 pm

    teenkz yaaaa!!!
    .
    .

    .
    .
    thenkz bageeeeeddz, buat nambah” iLmu gtuuu!!!!
    wkwkk

  9. Posted by wishnu on Desember 4, 2009 at 11:41 am

    okey…. baungeeeet brooo………Nocomment ..is very..very.. goood,
    namun terus terang aja ne nih perlu gambar tipografi dan titik koordinatnya khususnya kaltim punya ga broo …! ma kacih

Tanggapi posting ini